Webinar UNAS dengan tema Krisis Iklim Global, Moral Manusia dalam Mengelola Bumi

UNDANGAN WEBINAR

Akhir-akhir ini perubahan lingkungan hidup membawa manusia
pada dilema, yaitu hilangnya keseimbangan alam. Keadaan ini
boleh jadi disebabkan oleh adanya eksploitasi sumber daya alam
yang berlebihan, pencemaran lingkungan oleh industri dan perilaku
manusia, dan menurunnya tingkat kesuburan tanah, serta hilangnya keseimbangan lahan yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir bandang, yang mengancam kehidupan kita.

Di Indonesia, hampir
setiap tahun kita menjumpai frekuensi meningkatnya musibah
diakibatkan kerusakan lingkungan, seperti banjir dan tanah longsor.
Lebih dari itu, ternyata, perubahan iklim global telah menjadi
sebuah realitas. Atas dasar itulah LP3ES bekerjasama dengan Universitas Nasional bermaksud menyelenggarakan webinar dengan tema Krisis Iklim Global, Moral Manusia dalam Mengelola Bumi yang akan diselenggarakan pada:

Hari/tanggal: Rabu, 9 Juni 2021

Pukul: 19.30 WIB

NARASUMBER

1). Fachruddin M. Mangunjaya ( Dosen Pascasarjana & Ketua Pusat Pengajian Islam UNAS)

2). Nazaruddin Umar ( Imam Besar Masjid Istiqlal)

3). Azyumardi Azra ( Cendikiawan Muslim)

4). Soeryo Adiwibowo ( Penasihat Senior KLHK)

5). Gita Syahrani ( Aktivis Lingkar Temu Kabupaten Lestari)

MODERATOR
Lya Anggraini ( Peneliti LP3ES)

Link Zoom:

https://us02web.zoom.us/j/87525314772?pwd=czlvUndZZCtsWlI5Q3JtWlNTTUdlQT09

Meeting ID: 875 2531 4772
Passcode: 402297

Diharapkan, agar Bapak/Ibu dapat bergabung di room zoom 10 menit sebelum acara dimulai.
Demikian undangan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

Free E-Sertifikat untuk peserta webinar

Info pemesanan (PO) Buku Generasi Terakhir silahkan hubungi nomor WA 085782302764

 

Paparan :

Fachruddin M. Mangunjaya ( Dosen Pascasarjana & Ketua Pusat Pengajian Islam UNAS)

Semua umat beragama terutama umat Muslim harus jaga alam dari krisis. Ketua Pusat Pengkajian Islami, Fachruddin M Mangunjaya, dalam peluncuran bukunya secara wibiner berjudul,”Generasi Terakhir” di Jakarta, Rabu (9/6/2021), mengatakan, peran umat Muslim sebagai khilafah dalam menjaga alam dari krisis. “Umat Islam harus jadi terdepan jaga dalam dari krisis,” kata Fachruddin.

Fachruddin mengatakan, ia tidak hanya sekadar membicarakan aktivisme dalam memerangi krisis iklim dalam buku tersebut. “Bukan hanya mengenai aktivisme dan upaya, tetapi menjembatani sains dan Islam yang dikembangkan dari zaman Ibnu Sina,” kata Fachruddin.

Dia mengatakan, adanya krisis iklim yang diakibatkan manusia juga membuat simbol umat Islam seperti masjid terancam keberadaannya.

Misalnya masjid-masjid yang berada di pinggiran pantai dan berjarak dekat bibir pantai, kini air laut menjadi pasang dan bangunannya tidak dapat terpakai lagi. “Banyak masjid tenggelam,” kata dia.

Selain itu, krisis iklim juga membuat spesies flora dan fauna pupus dan menimbulkan ketidakseimbangan ekosistem seperti di Uzbekistan, dimana laut menyusut.

Kemudian negara-negara dengan populasi Islam yang besar seperti Maladewa yang menerapkan kebijakan syariat Islam, namun membuat hampir seluruh wilayahnya tenggelam berada satu kilometer di atas permukaan laut dan mengancam umat Islam.

Oleh karenanya Fachruddin menegaskan, sebagai manusia yang menjadi khilafah dan hidup di Indonesia dengan kekayaan alamnya, hendaklah menjaga keseimbangan ekosistem alam.

 

Azyumardi Azra ( Cendikiawan Muslim)

Sementara itu Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra menanggapi bukan hanya “global warning,” tapi kerusakan ekosistem jadi tantangan besar dunia Islam.

“Ini tantangan ke depan gimana mengaktulaisasikan praktik keislaman dalam lingkungan sehari-hari,” ujar dia.

Menurut dia tantangan saat ini di Indonesia sebagai negara dengan populasi Islam besar, namun Islamisasi dalam perilaku menjaga lingkungan belum terlihat.

Hal itu diakuinya tidak mudah karena masih terkait dengan kemiskinan, faktor padat penduduk dan urbanisasi kota besar.

Sehingga perlu adanya upaya konkrit mengimplementasikan nilai Islam dalam menjaga lingkungan dan mencegah krisis iklim.

“Jadi masalah kita terkait tidak adanya kesadaran mengimplementasikan ajaran Islam tentang lingkungan,” kata dia.

 

Nazaruddin Umar ( Imam Besar Masjid Istiqlal)

Dalam kesempatan tersebut Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar menanggapi bahwa buku tersebut menyadarkan manusia agar lebih sadar akan masalah besar yang sedang dihadapi yakni krisis iklim.

“Quran telah menegaskan tampak kerusakan di muka bumi adalah ulah tangan manusia. Apa yang salah manakala terjadi kerusakan bumi, pastilah kita menjadi faktor,” kata dia.

Oleh karenanya, Nazaruddin mengimbau agar setiap umat muslim sebagai khalifah belajar dari sifat Allah yang memelihara alam, dan kembali mempelajari Quran dan Fiqih di mana ada ajaran mengenai memelihara alam dan memperbaiki estimologi keilmuan.

Sementara Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi mendorong perlunya pengarusutamaan Islam ramah lingkungan demi kelangsungan ekologi yang berkelanjutan.
“Isu lingkungan kita ambil sebagai pintu masuk untuk membahas bagaimana Islam sendiri memiliki gagasan ‘rahmatan lil ‘alamin’ yang universal. Sudah banyak yang melakukan inisiatif melestarikan lingkungan,” kata Mujtaba.

Taba, panggilan akrab Mujtaba Hamdi, mencontohkan isu lingkungan di kalangan Islam kalah dengan politisasi agama yang membelah sentimen antara yang lebih Islam dan kurang Islam.

Bahkan, kata dia, dalam beberapa hal Islam justru dikaitkan dengan isu ekstremisme dan kekerasan. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi Islam di masa kini meski sudah ada perintah untuk melestarikan alam secara berkelanjutan.

Islam, lanjut dia, mengajarkan nilai-nilai perlindungan alam sebagai salah satu ajaran inti. Al Quran dan hadits mewajibkan orang yang beriman tentang cara hidup yang peka terhadap lingkungan.

Menurut dia, meski isu lingkungan tidak menjadi arus utama, tetapi sejumlah organisasi keagamaan Islam sudah bergerak mengarah pada pelestarian alam.

Dia mencontohkan Majelis Ulama Indonesia sudah merintis eco-masjid, yaitu tempat ibadah Muslim yang ramah terhadap lingkungan. Ke depan agar gerakan tersebut dapat menyebar ke berbagai tempat dengan dimotori para ulama dan santri.

“Salah satu motor penggerak masjid ramah lingkungan adalah teman dari MUI, ada lembaga khsusus lingkungan yang ada di MUI, tapi tidak banyak diketahui publik,” kata dia.

Eco-masjid, kata dia, merupakan sebuah metode terapan pengelolaan air wudhu dan sampah daur ulang. Air wudhu yang dipakai tidak langsung dibuang ke alam tetapi didaur ulang agar dapat diserap oleh alam dengan baik dan berkelanjutan.

“Kita sering melihat air wudhu itu ‘dihambur-hamburkan’. Orang menggunakan sesuka-sukanya meluber ke mana-mana. Salah satu yang digagas teman-teman di eco-mosque adalah bagaimana air sisa wudhu itu ‘di-recycle‘ dikembalikan ke alam dengan baik,” kata dia.