HARI PAHLAWAN : Oleh Robi Nurhadi, PHd.

PAHLAWAN HARI INI

Makna kepahlawanan hari ini harus diperluas. Ia tidak lagi disematkan kepada yang sudah wafat. Ia kini mesti disematkan kepada yang masih hidup dan perannya dalam menjaga kehidupan manusia lainnya agar tetap hidup. Keadaan saat dimana pandemi Covid-19 melanda adalah contoh yang tengah kita alami. Maka pahlawan hari ini adalah mereka yang menerapkan protokol kesehatan. Tentu juga para tenaga medis, dan satgas Covid-19 yang berada di garis terdepan dalam pertempuran melawan Corona.

Covid-19 adalah misteri. Anggapan terhadapnya beragam. Mulai dari virus yang muncul sendiri, hingga dianggap bagian dari konspirasi tertentu. Apapun itu, faktanya ia sudah menelan korban 49,578,590 kasus dengan 1,245,717 kematian (CFR 2,5%) di 217 Negara Terjangkit (WHO, 8/10/20). Dilihat dari jumlah korban dalam kurun 1 tahun, Corona bisa dilihat sebagai sebuah perang. Sebuah perang antara manusia dengan “Detasemen Khusus” dari rezim virus di dunia, atau saya sebut “Densus C-19”.

Fenomena korban Covid-19 yang dahsyat, dan lambatnya para pemimpin dunia mendeteksi, mengamankan warganya, menangani yang terpapar, dan melakukan serangan balik melalui vaksin,– menegaskan ketertinggalan cara berpikir kita dalam masalah keamanan manusia (human security). Selama ini, sebagaian besar kita cenderung melihat bahwa ancaman itu datang dari sesama manusia (saja). Bahkan saat bencana melanda, lagi-lagi manusia yang satu terkadang menyalahkan yang lainnya. Kita kadang lebih senang mencari penyebab kesalahan,– atau pihak yang bisa disalahkan,– daripada bertindak sesegera mungkin menangani akibatnya. Saking minimnya orang-orang yang mau melihat ke depan, menangani masalah, dan mengembalikan keadaan untuk kembali normal,– maka kepada yang sekumpulan minim yang bekerja tanpa bayaran itulah kita sering menyematkan identitas pahlawan. Padahal itu hal biasa yang semestinya kita lakukan sebagai manusia. Istilahnya “kita hanya perlu menjadi manusia,– tidak harus menjadi pejabat, ulama, atau bahkan atribut sosial lainnya,– untuk berempati terhadap korban kelaparan di Somalia”.

Kepahlawanan dan konteks seseorang mendapatkan identitas pahlawan adalah soal cara kita memandang hari ini. Kepahlawanan adalah soal cara kita berpikir.

Rene Descartes (1596) pernah mengatakan: je pense, donc je suis; cogito ergo sum artinya: kalau saya berpikir maka saya ada. Maka kalau kepahlawanan itu kita maknai tidak hanya berjasa di medan perang, melainkan di medan pertempuran menghadapi Corona, maka eksistensi pahlawan itu ada di sana.
Bertrand Russell (2002) yakin bahwa sebagai manusia kita berpikir hal yang sama tentang satu makna. Contohnya soal kepahlawanan tersebut. Karena Russell yakin bahwa pikiran pasti selalu berpikir, bahkan ketika sedang tertidur nyenyak.

Dulu, kita sebut seseorang pahlawan karena ia berjasa di medan perang. Kini, semua kita adalah pahlawan saat kita mampu melakukan tiga kemenangan era Corona.

Pertama, saat kita berpikir harus memenangkan perang melawan Corona. Jadi, upaya kita untuk bertahan agar tetap hidup tanpa meninggalkan keseharian tugas-tugas kita adalah seperti para prajurit perang yang tengah dikirim ke medan laga. Kita yang hidup selama pandemi ini berlangsung ini adalah para prajurit yang tengah berada di medang perang Corona. Sadar atau tidak. Bahkan kita mau atau tidak. Kita sedang di medan perang. Maka menangkanlah!

Kedua, saat kita berpikir untuk melanjutkan kehidupan kita (pekerjaan, berkeluarga, atau hal lainnya). Memenangkan kehidupan kita hari ini adalah saat kita mau bertransformasi dari kehidupan offline menjadi online. Jualan, meeting, belajar-mengajar semuanya online. Inilah dunia baru yang menuntut kita berubah.

Ketiga, saat kita berpikir untuk memenangkan makna puncak (ultimate meaning) kenapa kita diberi kehormatan untuk berada pada Era Corona ini. Kenapa kita tidak ditutup usianya sebelum Corona tiba. Kenapa? … Apapun pertanyaan itu, jawabannya adalah bahwa hari ini kita diperkenalkan dengan adanya entitas lain di dunia ini yang menuntut kita hidup bersama dengan cara hidup yang harus menyesuaikan dengan gaya hidup entitas lain itu. Corona adalah sekumpulan makhluk yang memiliki gaya hidup tertentu. Kalau kita mengetahuinya dan berusaha tidak masuk ke wilayah demarkasinya, maka kita akan hidup. Istilahnya New Normal!

Ultimate meaning dari Era Corona adalah kesadaran akan adanya kekuatan lain yang bisa merontokan ekonomi global dalam waktu hanya beberapa bulan. Kesadaran ini menjadi penting agar kita menjadi rendah hati, empati terhadap sesama, dan menikmati keseimbangan dengan cara bersyukur.

Jadi, pahlawan hari ini adalah kita, yang mampu menjaga kelangsungan diri dan penduduk dunia saat ini, untuk melewati batas masa pandemi ini. Dan tentu, masa apalagi yang akan dihadirkan Tuhan ke muka bumi ini.

Ditulis oleh:
Robi Nurhadi, PhD
Kepala Pusat Penelitian, Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional.